Minggu, 02 September 2018

Catatan 12

Ingin ku berjalan menelusuri lereng lereng kegelapan.  Mendaki tingginya pegunungan, mengarungi luasnya samudra. Untuk ku kabarkan kepada dunia. Agar semua manusia tahu, tumbuh-tumbuhan pun tahu, hewan-hewan pun tahun dan seluruh alam tahu bahwa engkau bukanlah anak haram yang lahir dari rahim kegelapan. Namu apalah dayaku. Kakiku tak cukup kuat untuk melangkah, lisanku terlalu lemah untuk berucap dan yang ada hanya langka-langkah gontai penuh keputus asaan. Ohhhhh Rabbul izzat sang penguasa alam mayapada...... masih adakah tersisa belas kasihMu yg Kau berikan pada penduduk bumi ini atau yg tersisa hanya amarahMu yang Kau nurunkan di alam mayapada ini.p

Minggu, 19 Agustus 2018

Catatan 11

Arti Sabarku...!!!

Kutulis goresan ini sebagai ungkapan suara hati yg terpendam dan tak mampu ku ucapkan. Butiran-butiran air mata seakan tak mampu lagi menetes dari mata ini. Haruskah mengeluh akan takdir ini. Haruskah lari dari semua ini. Dia yg seharusnya menjadi tempat bersandar dalam memikul amanat ini tak lagi sudi menyandarkan bahunya. Dia yg dulunya selalu berada di belakangku dalam menghadapi beratnya perjuangan kini membiarkanku sendiri dlm memikul amanah ini. Ya Allah.... beri kekuatan dan kesabaran pada diri ini sampai hamba berjumpa denganMu  dlm keadaan Kau ridho terhadap hamba

Minggu, 10 Desember 2017

Catatan 10

 SEBUAH RENUNGAN

Sesungguhnya setiap manusia akan mengalami kesudahan. Betapa pun lezatnya dia merasakan kenikmatan hidup di dunia, betapa pun panjang umurnya, betapa pun dia memuaskan syahwat dan meneguk kenikmatan dunia, dirinya tetap akan mengalami kesudahan. Kematian! Itulah kesudahan tersebut. Sesuatu yang tidak dapat dihindari. Allah ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Seorang penyair berkata,

Setiap manusia, betapa pun panjang umurnya
Kelak di suatu hari, dirinya akan terusung di atas keranda
Pada hari tersebut seluruh makhluk kembali menghadap kepada Allah jalla wa ‘ala agar seluruh amalan mereka dihisab. Allah ta’ala berfirman,

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 281)

Hari yang sering terlupakan, hari yang paling akhir, hari di mana kerongkongan tersekat. Tiada hari setelahnya dan tidak ada yang semisal dengannya. Itulah hari yang dahsyat dan telah Allah tetapkan bagi seluruh makhluk-Nya, baik yang muda maupun yang tua, yang terpandang maupun yang hina. Itulah hari kiamat, pertemuan yang telah dijanjikan.

Namun sebelum itu, ada waktu di mana setiap manusia berpindah dari kampung yang penuh tipu daya menuju kampung abadi sesuai dengan amalannya. Pada waktu itu, manusia akan melayangkan pandangannya yang terakhir kali kepada anak dan kerabatnya, dirinya akan memandang dunia ini untuk kali yang terakhir. Di saat itulah, tanda-tanda sekarat akan nampak di wajahnya. Muncul rasa sakit dan tarikan nafas yang teramat dalam dari lubuk hatinya.

Di waktu itu, manusia akan mengetahui betapa hinanya dunia ini. Di waktu itu, dirinya akan menyesali setiap waktu yang telah disia-siakannya. Dirinya akan memanggil, “Wahai Rabb-ku!”,

رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100)

Di waktu itulah, kebinasaan dan kematian akan menjemputnya. Malaikat maut akan menghampirinya seraya memanggil dirinya. Duhai! Apakah yang akan dia serukan? Seruan menuju surga ataukah seruan menuju neraka?!!

Ketahuilah, sesungguhnya pengasingan yang hakiki adalah pengasingan dalam lahad tatkala diri diliputi kain kafan. Tidakkah anda membayangkan bagaimana anda diletakkan di atas dipan, tiba-tiba tangan para handai taulan mengguncang tubuh anda (agar anda tersadar). Sekarat semakin keras anda alami dan kematian menarik ruh anda di setiap urat. Kemudian ruh tersebut kembali menuju kepada Pencipta-nya. Alangkah dahsyatnya kejadian itu!

Para keluarga pun datang dan menyalati anda, kemudian menurunkan jasad anda ke dalam kubur. Sendirian, tanpa seorang pun yang menemani. Ibu dan bapak tidak lagi menemani, saudara pun tidak ada yang akan menenangkan.

Di sanalah seorang akan merasakan keterasingan dan ketakutan yang teramat sangat. Dalam sekejap, hamba akan berpindah dari kampung yang hina menuju negeri yang dipenuhi kenikmatan jika dirinya termasuk seorang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal yang shalih. Atau sebaliknya, dia akan menuju negeri kesengsaraan dan dipenuhi azab yang pedih, bila dirinya termasuk seorang yang buruk amalnya dan senang mendurhakai Sang Pencipta jalla wa ‘ala.

Sisi kehidupan dunia yang menipu telah dilipat, dan nampaklah di hadapan hamba ketakutan di hari kebangkitan. Hiburan dan kesenangan berlalu, dan yang tersisa hanyalah kelelahan (di hari berbangkit). Dalam sekejap, lembaran hidup seorang tertutup, entah lembaran hidupnya diwarnai dengan kebaikan atau sebaliknya diwarnai dengan keburukan. Timbul dalam hati, penyesalan terhadap hari-hari yang telah dilalui dalam keadaan lalai dari mengingat Allah dan hari akhir.

Demikianlah, dunia dan seisinya berlalu dan berakhir sedemikian cepatnya. Dan sekarang dirinya menghadapi tanda-tanda kesengsaraan di depan matanya. Ruhnya kembali kepada penciptanya dan berpindah menuju kampung akhirat dengan berbagai keadaannya yang begitu menakutkan. Dalam sekejap, dirinya kembali menjadi sesuatu yang tidak dapat disebut. Dalam sekejap, seorang singgah di awal persinggahan akhirat dan menghadapi kehidupan yang baru. Entah itu kehidupan yang bahagia, atau kehidupan yang mengenaskan.

Terdapat kubur yang penghuninya saling berdekatan dan berbeda-beda tingkat keshalihannya, itulah kubur yang didiami oleh penghuni yang senantiasa merasakan kenikmatan dan kesenangan.

Ada pula kubur yang terletak di lapis terbawah dan dipenuhi siksaan yang teramat pedih. Penghuninya berteriak, namun tidak ada seorang pun yang menjawabnya. Dirinya meminta agar dikasihani, namun tidak seorang pun yang mampu memenuhi permintaannya.

Kemudian, dirinya akan menemui hari yang telah dijanjikan. Suatu hari, ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit dan seluruh makhluk di Padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Suatu hari, yang pada hari itu seorang tidak mampu menolong orang yang dikasihinya sedikit pun.

Tatkala malaikat penyeru memanggil, keluarlah seluruh mayit dari kubur menuju Rabb-nya dalam keadaan bertelanjang kaki, tak berbaju dan tidak berkhitan. Mereka tidak lagi memiliki pertalian nasab, juga kemuliaan, tidak pula kedudukan dan harta.

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ . فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ . تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan. Barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.” (QS. Al Mukminuun: 101-104).

Pada hari itu, Allah mengumpulkan seluruh umat, baik yang terdahulu maupun yang datang kemudian. Di hari itu, kecemasan dan kesabaran tercerai berai. Pada hari itu, berbagai catatan amal disebar dan dipancanglah berbagai timbangan amal. Di hari itu, seorang akan lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, juga dari istri dan anaknya. Hari di mana seorang pelaku maksiat (kafir) menginginkan, jika sekiranya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya serta kaum kerabat yang telah melindunginya di dunia.

Sabtu, 11 November 2017

Catatan 9

Hidup seperti angin bertiup sepoi-sepoi. Tak tahu dari mana arahnya dan kemana tujuannya. Hingga suatu hari angin itu berbelok arah atau behenti sama sekali. Kadang kita begitu tenang, damai dan santai dalam menjalani hidup. Kita merasa segala sesuatu sudah ada dalam genggaman. Seakan kita adalah seorang raja yang bekuasa. Namun Takdir kehidupan kerap tak tertuga. Suasana sunyi mendadak ramai, kegembiraan mendadak beubah menjadi kecemasan, kebanggaan tiba-tiba menjadi krisis pecaya diri. Tatkala roda sedang beputar, kenyataan beganti, atas bawah tertukar….. , saat itu engkau harus siap menghadapi, menjalani dan menerima. Begitulah ysng kini kurasakan. Sakit yang menimpaku membuyarkan semua konsentrasiku, menelan jiwaku, dan memenjarakan jiwaku dalam langkah-langkah kehidupan yang baru. Tubuhku telalu lemah memikul semua ini. Secara fisik, psikis maupun mental telalu berat rasanya berat yang harus ditanggung. Ya Allah…. Tolonglah aku. Jangan menghukumku jika aku salah ataupun terlalai. Jangan Engkau bebankan bagiku, beban berat yang tak sanggup aku memikulnya. Namun, aku akan terus menjalaninya sekuat kemampuanku.

Catatan 8

DIRI YANG TAK LAGI BERNILAI

Cerita cinta memang tak selalu berakhir seperti yang kita bayangkan, banyak sekali mimpi-mimpi yang telah “kita” bangun menjadi debu yang hilang begitu saja terbawa angin, seiring waktu, perasaan yang dulu pernah sama-sama kita rasakan perlahan memudar terkikis waktu, lebih tepatnya perasaan mu. Perjalanan panjang kisah kita tak pelak membuat hati mu tetap bertahan untuk ku.
Sekian tahun  yang telah kita lewati tak pelak membuat hati mu tetap untuk ku, meski dulu semua terasa sangat indah sampai-sampai bibir ku kaku karena selalu tersenyum lebar mengingat mu,kini waktu seakan melaju membawa setiap inci kenangan kita, meninggalkan luka menganga di hati ku. Kamu ingin  pergi membawa hati mu untuk seorang pria  yang indah dipandangan mu, meski begitu aku hanya mengajukan satu pertanyaan “ apa kau benar- benar ingin  pergi dengan cara seperti ini?”,pertanyaan itu terus saja menari-nari di otak ku aku hanya ingin tau bagaimana perasaan mu ketika memutuskan untuk berjalan bertatapan punggung dengan ku.
Pesona pria yang kamu kagumi  memanglah sangat kuat di mata mu, karena dia , sedikit kealpaanku dan kesalahan ku menjadi bom untuk mu meledak seketika di depan ku, kemarahan karena takdir yang tak bisa ku hindari  membuat mu menjadi garang yang membuat aku ingin memekik dan berlari ke arah manapun,tidak kah kamu tau betapa sakit yang aku rasakan ketika kamu memaksa ingin berlalu  dari ku ketika aku belum bersiap-siap untuk itu, kau menghentakkan keluar dengan sangat keras akar yang telah ternanam kuat, tanah yang tak berdaya hanya bisa pasrah dan melebur seketika. Aku hanya ingin mengatakan aku begitu sakit ketika kau memaksakan diri ku untuk menerima semua keinginan mu.
Waktu yang melaju dengan kecepatan 200 kg/jam membuat semua benar-benar terasa sangat cepat berlalu, “kita” yang dulu pernah tertawa bersama menjadi aku dan kamu yang seolah –olah tak saling mengenal , tetapi aku masih ingin memperjuangkan “kita” untuk kita, waktu yang lebih dari 10 tahun  kita lewati tak ingin ku buang begitu saja,tak ingin aku dan kenangan itu menjadi debu yang terbawa angin begitu saja, aku masih ingin memaafkan mu, menerima mu, kita hanya perlu mengulang semua dari awal, apakah itu sulit???, yap ..untuk mu itu sangat sulit dan tak akan pernah terjadi, hanya saja aku ingin menyampaikan keinginan hati ku.. perjuangan ku mungkin saja tak bisa terlihat kasat mata oleh mu, atau pun orang lain, perjuangan ku seperti aku berkelahi dengan batin ku, memaksa batin untuk bisa menerima mu lagi dan menganggap semua kesalahan mu angin lalu.
aku masih ingin bersama mu, tanpa menghiraukan batin ku yang terkoyak dan teriris karena kesalahan yang telah kau torehkan dan membuat luka menganga di hati ku, hanya saja aku masih ingin tetap bersamamu, ribuan doa yang telah aku sampaikan kepada pencipta ku, berharap hati mu akan terbuka lagi untuk ku dan sama-sama saling memaafkan dan aku juga menyadari akan kesalahan yang telah aku perbuat namun apakah aku bisa menghindar dari takdir yang telah digariskan untuk ku.
“Maafkan Bila Ku Pernah membuatmu sakit, Dengan segala ketidak berdayaanku saat ini ku masih ingin terus bersamamu”


Jumat, 10 November 2017

Catatan 7


MASIH ADAKAH HARAPAN

Semakin hari semakin terasa rasa sakit dan perih dari sakit yang kuderita ini. Tidak terasa lebih dari 2 tahun sakit ini menggerogoti tubuh ini. Namun saat rasa sakit yang semakin hari semakin bertambah parah terasa diri ini semakin tidak terurus lagi. Keluarga seakan tak da yang peduli. apakah mereka memang tidak tahu atau pura2 tidak mau tahu akan sakit yang semakin parah ini.

Terasa diri ini seperti hidup sebatang kara walau di kelilingi oleh keluarga. Terasa diri seakan sendiri di tengah-tengah keramaian. Kepada siapa lagi harus ku adukan keadaanku ini, adakah sanak keluarga , sahabat, kerabata yang masih mau mendengar dan peduli akan diri ini. Dalam menjalani hari-hari ini terasa seperti sedang menunggu kematian yang akan menjemput. Masihka ada tersisa sebuah harapan dalam menjalani hari-hari ku ini, atau yang ada malah sebuah keputus asaan. Biarlah waktu yang akan menentukan semuanya. Disaat semua family tidak ada lagi yang peduli, hanya padamu ya Allah ku serahkan segala urusanku. Jika memang diri ini sudah tidak ada lagi memiliki tempat di bumi ini, maka segeralah KAU rengkuh jiwa ini menuju ke haribaanMU ya RABBI karena perjumpaan denganMU adalah saat-saat yang paling di nantikan.

Kamis, 09 November 2017

Catatan 6

FARISHA SANJAYA

Putri ketigaku dari istri keduaku yang lahir  pada hari sabtu 4 Pebruari 2017 , dia lahir seminggu setelah berpulangnya  adikku tercinta Meydy Sanjaya ke pangkuan Sang Pencipta Allah SWT.

Kini Farisha sudah hampir sembilan bulan, namun betapa malang nasibnya. Sejak lahir dia kurang mendapatkan tempat di dalam keluargaku di banding dengan anak-anakku yang lain. Perlakuan yang seharusnya sama di dapatkan dengan saudara2nya yang lain  tidak bisa dia dapatkan. Dia seperti tak memiliki siapa-siapa dikota ini. " Kau tak mempunyai keluarga disini nak !, Kakek, nenek, Paman , Bibi kau tak Punya!, begitulah ucapan yang sering di ucapkan oleh ibunya sebagai luapan emosi yang gk bisa di salurkan. Dia tumbuh dalam dekapan sang Ibu yang selalu menemaninya siang dan malam. Ayah yang diharapkan ada di dekatnya malah mengabaikannya.

Ketika sakit menimpa, hanya ada ibu yang merawatnya. ketika malam yang dingin menyelimuti, hanya dekapan Ibu yang menghangatkannya. Semua Ibu, tidak ada sedikitpun peran ayah dalam merawat dan membesarkanmu. Semoga kau bisa memamfaatkan ayahmu yang telah mengabaikanmu selama ini karena kelemahan dan ketidak berdayaannya.